Tampilkan postingan dengan label profil pentolan band. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profil pentolan band. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Desember 2011

EDWIN COKELAT


Click for larger version Nama Lengkap : Edwin Marshal Syarif
Tempat/Tgl Lahir : Plaju, Sumatera Selatan / 19 Maret 1975
Group Band : Cokelat
Pengaruh : Eddie Van Halen, Joe Satriani
Gitar : IBANEZ AR 250 (Gibson Classic '57Plus-bidge/Gibson Classic '57-neck), IBANEZ GAX 125 (Seymour Duncan Custom Trembucker Distortion-bridge / IBZ PAF-neck), IBANEZ SZ (Gibson Classic Modern 498T-bridge / Gibson Classic '57Plus-neck)
Amply : Head Amp LANEY GH 100L, LANEY Cabinet Tonny Iommy 4x12 Top, LANEY Cabinet Tonny Iommy 4x12 Bottom, ADA Mp2 Pre Amp
Efek : VOX ToneLab, BOSS ME-8, BOSS Foot Pedal Expression, ROCTRON Surf Tremolo, MARSHALL Guv'Nor GV-2, MARSHAL Jack Hammer JH-1, MARSHALL Supervibe Chorus, APHEX Aural XCiter
Gear Lainnya : BEHRINGER Ultra-G DI, BOSS Power Supply, ADA Foot Control, YAMAHA MG 12/4 Mixer

Gitaris yang satu ini merupakan pentolan grup band asal Bandung, Cokelat. Bagi yang tinggal di Indonesia sudah pasti sering mendengar nama band ini. Permainan gitar yang ngerock memberi nuansa tersendiri bagi musik-musik yang ada di album-album Cokelat. Salah satu lagu karyanya yaitu, Karma menjadi hist single di berbagai tangga lagu nasional. Yang menarik, lagu itu dibuat dengan terinspirasi dari salah satu lagu Iron Maiden. Namun ia bisa mengolahnya dengan matang sehingga yang muncul dalam rekaman adalah warna alternative.

Pertama kali muncul bersama Cokelat dalam album kompilasi Indie Ten (1998), kemudian album Untuk Bintang (2000) yang mengeluarkan hits single 'Sendiri'. Awalnya nama Cokelat tak begitu diperhitungkan di tanah air. Album pertamanya tidak begitu sukses di pasaran. Baru pada tahun 2001 saat album Rasa Baru direlease, nama Cokelat mulai diperhitungkan setelah album in sukses dipasaran. Dua tahun kemudian album 'Segitiga' direlease dan sukses. Suksesnya Cokelat berdampak juga pada Edwin sebagai pentolan grup, sampai pada akhirnya ia bersama Cokelat ikut tampil dalam album 'Tribute To Ian Antono' pada tahun 2004. Setelah itu album 'Dari Hati' direlease.

Pada tahun 2001, saat Andy Timmons menggelar klinik gitar Ibanez S-Series dan Amply Lanet, Edwin mendapat kesempatan mengadu beberapa jurus dalam sebuah sesi jam session. Tak lama kemudian Edwin dikontrak oleh Ibanez sebagai salah satu playernya dan kemudian ditampilkan di katalog gitar Ibanez mulai tahun 2003.





Read More..

Jumat, 09 Desember 2011

profil Bondan Prakoso



Biografi :

PERSONAL

Bondan Prakoso adalah salah satu penyanyi dan musikus Indonesia yang dikenal publik sebagai penyanyi juga pemain bass handal. Pria berumur 26 tahun ini adalah anak ketiga dari pasangan Lili Yulianingsih dan Sisco Batara yang dilahirkan pada 8 Mei 1984.

Selain karir bermusik yang dilakoninya sejak kecil, Bondan juga memiliki ketertarikan pada Sastra Belanda, yang ditekuninya di Universitas Indonesia pada program D3 Sastra Belanda. Kelulusannya yang gemilang juga membuktikan bahwa Bondan juga memiliki kehidupan pribadi yang cukup baik selain perannya sebagai salah satu selebriti Indonesia.

Pada 17 Desember 2007, Bondan mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Margareth atau yang lebih dikenal sebagai Margie di Restoran Cibintung, Ciputat, Tangerang. Mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan 17 gram emas diberikan kepada wanita beruntung ini untuk memulai perkawinan di usia muda mereka.

KARIR

Awal karir sebagai penyanyi cilil di era 80-90an, album perdana yang berjudul Si Lumba-lumba yang membuat Bondan dikenal publik Indonesia. Selama 1988-1995, Bondan cilik menelurkan 8 album anak-anak.

Di masa remajanya, yaitu pada tahun 199, Bondan membentuk sebuah band yang bernama Funky Kopral. Bakat bermusik yang dimiliki Bondan sejak kecil dituangkan dalam perannya sebagai pembetot bass di band beraliran rock-funk ini. Tiga buah album sempat diluncurkan oleh Funky Kopral, yaitu Funchopat pada 1999, Funkadelic Rhytm and Distortion pada 2000, juga Misteri Cinta yang merupakan hasil kolaborasi dengan musisi kawakan Indonesia, Setiawan Djodi pada 2003.

Album kedua pada karir musik Bondan bersama Funky Kopral dianugerahi penghargaan sebagai Group Alternatif Terbaik pada AMI Sharp Awards 2001, dengan hits single yang cukup kontroversial berjudul Keroncong Protol. Album ketiga dengan hits single Tokek juga menuahkan hasil yang gemilang sebagai Kolaborasi Rock Terbaik pada AMI Sharp Awards 2003.

Setelah kesuksesan 3 album yang cukup gemilang dengan Funky Kopral, band ini bubar, dan pada tahun 2005 Bondan membentuk band baru dengan genre yang berbeda, yaitu Pop Rock yang dipadu dengan Rap. Band dengan aliran yang cukup menantang ini bernama Bondan Prakoso dan Fade 2 Black, yang menggabungkan kecemerlangan bermusik Bondan dengan tiga orang rapper, yaitu Titz, Santoz, dan Lezzano. Lagi-lagi penghargaan AMI Sharp Awards 2008 berhasil disabetnya sebagai Group Rap Terbaik.

Bakat dan karir pribadi Bondan sebagai seorang bassist pun dibuktikannya dengan pemecahan rekor MURI untuk penghargaan Penampilan Bassist terbanyak dalam satu panggung, yang digelar pada tahun 2006 bersama bassist ternama Indonesia seperti Thomas GIGI, Rindra Padi, Bongky BIP, Adam Sheila On 7, Ronny Cokelat, Nissa Omellete, dan lainnya.

DISKOGRAFI
* Solo
8 buah album anak-anak (1988-1995)

* Funky Kopral sebagai Bassist dan Music Producer
Funchopat (1999)
Funkadelic Rhythm And Distortion (2000)
Misteri Cinta (kolaborasi dengan Setiawan Djodi;dirilis 2003)

* Bondan Prakoso & Fade 2 Black sebagai Producer, Composer, Arranger, Singer, Bass&Guitar
Respect (2005)
Unity (2007)
For All (2010)


kapan lagi.com
Read More..

Profil Dewa Budjana



Dewa Budjana (I Dewa Gede Budjana; lahir di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, 30 Agustus 1963; umur 47 tahun) adalah anggota grup musik Gigi.

Ketertarikan dan bakat Dewa Budjana pada musik, khususnya gitar, sudah sangat dominan terlihat sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar di Klungkung Bali. Sampai-sampai, Budjana kecil pernah mencuri uang kakeknya untuk sekedar memeuhi keinginannya membeli gitar pertamanya seharga 10.000 Rupiah.

Sejak memiliki gitar pertama inilah yang membuat Budjana tidak lagi memiliki semangat untuk bersekolah, baginya gitar adalah nomor 1. Pada saat itu Budjana mempelajari sendiri teknik bermain gitar, dan dia mampu dengan cepat mahir mempelajari lagu Deddy Dores berjudul Hilangnya Seorang Gadis dan lagunya The Rollies berjudul Setangkai Bunga, itupun disaat ia sama sekali belum tersentuh literatur-literatur musik/gitar yang formal.




KARIR
Dalam perjalanan kariernya, Dewa Budjana pernah bergabung dengan kelompok-kelompok musik diindonesia, diantaranya adalah :

* Squirrell (1980 - 1985)
* Spirit (1989 - 1992)
* Java Jazz (1993 - 1994,Reunion 2009)
* GIGI (1994 - Sekarang)

Selain itu Budjana juga menjalani karier solonya sendiri dan telah menghasilkan album :

* Album Solo Nusa Damai (1997)
* Album Rohani Nyanyian Dharma (1998)
* Album Solo Gitarku (2000)
* Album Solo Samsara (2003)
* dan terakhir album solo dengan tajuk Home (2005)

Dan juga ia mengedarkan sebuah buku yg berjudul gitarku,hidupku,kekasihku
Read More..

Profil Ian Antono



Ian Antono yang memiliki nama asli Jusuf Antono Djojo (lahir di Malang, Jawa Timur, 29 Oktober 1950; umur 59 tahun) adalah seorang musisi dan pencipta lagu yang juga salah seorang gitaris kelompok musik rock legendaris God Bless.

Awal karier

Pada awalnya, Ian Antono merupakan seorang drummer. Namun setelah mendengar musik-musik The Shadows ia mulai berminat menjadi gitaris. Ia pun akhirnya bergabung dengan band Abadi Soesman yang waktu itu namanya cukup diperhitungkan. Tahun 1970 ia hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan band Bentoel yang menjadi pengiring bagi penyanyi Emilia Contesa dan Trio The King.

Akhirnya tahun 1974 ia resmi menjadi gitaris God Bless dan merilis album-album seperti Huma Diatas Bukit (1975), Cermin (1980), Semut Hitam (1989). Nama Ian Antono mulai menarik perhatian karena pada saat itu atmosfer musik rock di Indonesia belum ada yang memulai. God Bless lah yang pertama kali mempelopori. Secara otomatis Ian juga menjadi gitaris pertama yang berkibar di jalur rock Indonesia.


Gong 2000

Setelah mundur dari God Bless dan Ian bergabung dengan grup Gong 2000 dan merilis album-album seperti Bara Timur (1991), Laskar (1994), dan Prahara (1996).

Sewaktu masih memperkuat God Bless permainan Ian berbeda dengan semasa ia memperkuat Gong 2000. Di Gong 2000 ia banyak memasukkan unsur musik Bali. Hal itu dibuktikan pada setiap penampilannya, Ian setidaknya mengikutsertakan 20 musisi asli Bali. Tahun 1997, Ian kembali memperkuat God Bless dan berduet dengan Eet Sjahranie yang masih berstatus sebagai gitaris God Bless. Konsep double gitar ini cukup menarik perhatian meski pada akhirnya album "Apa Kabar?" gagal dipasaran.

Ian Antono juga merupakan sosok seorang musisi yang produktif. Dalam setahun beliau bisa menggarap album untuk beberapa penyanyi. Banyak album yang tidak lepas dari sentuhan hangatnya termasuklah Iwan Fals, Anggun C. Sasmi, Nicky Astria, Doel Sumbang, Gito Rollies, Ebiet G Ade, Ikang Fawzi dan banyak lagi. Karya Ian Antono di arena muzik telah menerima banyak penghargaan. Antaranya ialah BASF Award (1987 - 1988) untuk Arranger Terbaik dan Komposer Terbaik untuk album Gersang (Nicky Astria), HDX Award (1989) untuk lagu Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), BAFS Award (1989) Album Bara Timur (Gong 2000) sebagai The Best Selling Album dan The Best Arranger & Composer, HDX Award (1994) untuk album Laskar (Gong 2000) sebagai Album Terbaik. Yang tidak kalah pentingnya adalah penghargaan dari Diamond Achievement Award atas dedikasi dan prestasi yang tinggi di industri musik pada tahun 1995.

Sebuah pengalaman yang menarik bagi Ian adalah ketika pada tahun 1999 ia diundang oleh Ramli Syarif untuk ikut memeriahkan ajang Formula-1 di Malaysia. Bagi Ian ini bukan pengalaman biasa, pasalnya disana turut hadir pula grup kolaborasi dewa gitar dunia, G3 dan grup rock legendaris Jethro Tull. Dengan memanfaatkan sesi check sound, Ian mempelajari perangkat milik Steve Vai yang jumlahnya banyak. Dari situ ia menambah ilmu dan wawasan yang belum pernah ia dapatkan di Indonesia.

Kebesaran nama dan kontribusinya bagi dunia musik Indonesia membuat para musisi muda Indonesia menggelar proyek album A Tribute To Ian Antono yang dimeriahkan oleh artis-artis musik Indonesia seperti EdanE, Sheila On 7, Padi, Gigi, Cokelat, Boomerang, /rif, dll.

Ian Antono pada tahun 2007 ini sering memakai Gibson Les Paul standar dan juga Gibson SG double neck. Untuk perangkat latihan di rumah ia memakai Marshall, namun untuk LIVE dan rekaman di studio ia menggunakan Mesa Boogie. Tak ada efek macam-macam yang ia gunakan selain sebuah delay.

Diskografi

Bersama God Bless

Album

1. 1975 - God Bless
2. 1980 - Cermin
3. 1988 - Semut Hitam
4. 1997 - Apa Kabar
5. 2009 - 36th

Kompilasi

1. 1990 - The Story of God Bless
2. 1992 - 18 Greatest Hits of God Bless

bersama Gong 2000

* Bara Timur - 1991
* Gong Live - 1992
* Laskar - 1993
* Prahara - 2000
Lain -Lain
* Gitar Yang Digunakan : Gibson Les Paul Standar, Gibson SG Double Neck, Hamer, Kramer Tracer, Fender Stratocaster, Ibanez JEM 77, Washburn N-4, Gibson Les Paul Deluxe, Ovation Elite, Gibson Chat Atkins, Martin CMF, Martin EST 12 senar, dan Seagull
* Ampli : Messa Boogie Strategy 400, Marshall JCM 900 1960, Trace Elliot AC-100, Messa Boogie Quad, Messa Boogie Tri Axis
* Efek : Roland GP8. Harmonizer Eventid H-3000S
sumber: wikipedia







Read More..

Profil Eet Sjahranie



Zahedi Riza Sjahranie (Bandung, Jawa Barat, 3 Februari 1962) atau lebih dikenal dengan nama panggilan Eet Sjahranie adalah musikus Indonesia.

Eet Sjahranie selalu dihubungkan dengan kepiawaiannya memetik dawai gitar. Setelah Ian Antono, Eet disebut-sebut sebagai jawara gitar di tanah air. Imej itu memang layak disandangnya. Terlebih ia kini menjadi salah satu gitaris grup rock Indonesia yang cukup disegani, EdanE. Dilahirkan di Bandung, 3 Februari 1962 dengan nama Zahedi Riza Sjahranie, anak ketujuh dari kedepan bersaudara ini mulai menyenangi musik saat menginjak usia 5 atau 6 tahun. Maklum kakak-kakanya sering memutar lagu-lagu barat, seperti Deep Purple, Jimi Hendrix, Led Zeppelin, The Beatles, hingga Bee Gees.

Kendati diakuinya hal itu sedikit banyak mempengaruhi kepekaan rasanya dalam bermusik, bukan gara-gara itu yang menggugah hatinya belajar gitar. "Justru yang membuat saya mendalami musik karena melihat Koes Plus. Asyik banget melihat aksi panggung Yok atau Yon Koeswoyo," ujar Eet mengenang. Awalnya ia belajar gitar dengan seorang anak yang jadi yang juru parkir di depan sekolahnya di Samarinda Kalimantan Timur, tempat keluarganya bermukim saat itu. Sehabis pulang sekolah, ia selalu mengajak sohib-sohibnya belajar gitar bersama. Sejak itu "secara alamiah saya belajar sendiri," tuturnya. Mulai dari lagu daerah, folksong, dangdut sampai lagu-lagu pop yang sedang populer saat itu ia coba untuk mencari akord-akordnya.

Di masa kecil, sesekali Eet sering diajak ayahnya, A Wahab Sjahranie yang pernah jadi Gubernur Kalimantan Timur 1967-1977, ke Jakarta, sekalian mengunjungi kakaknya yang sedang studi di Ibukota. Sang kakak kebetulan mahir bermain gitar klasik. Kesempatan itu tidak disia-siakan Eet untuk mencuri ilmunya. "Lumayan ia mengajarkan satu lagu klasik," katanya Sekembalinya, Eet menunjukan kebolehannya di hadapan teman-temannya. Merasa mendapat perhatian lebih dari kawan-kawannya, Eet kian percaya diri untuk lebih mendalami teknik permainan gitar. Lagu-lagu yang rhythm dan petikan melodinya enggak gampang, ia jelajahi. Keinginannya pun semakin menggebu ketika orangtuanya membelikan gitar elektrik. Berbeda yang ia alami saat memetik gitar akustik, dengan gitar elektrik ia mulai tahu sound-sound aneh. Referensi musiknya sedikit demi sedikit mulai bertambah. "Orientasi saya tidak lagi dengar lagu-lagu Indonesia, tapi lagu-lagu barat. Kayaknya lebih asyik," tutur Eet.

Pada 1978, keluarga Sjahranie boyong ke Jakarta. Ia melanjutkan sekolah di Perguruan Cikini. Tahu Eet jago main gitar, teman-teman sekolahnya yang suka ngeband mengajaknya ikut Festival Band SLTA se-Jakarta. Tak disangka, Eet mendapat gelar gitaris terbaik, sedang Cikini's Band menduduki peringkat kedua. Selain itu, Eet ikut membantu pengisi musik untuk operet sekolahnya. Di situ ia bertemu Iwan Madjid, yang lalu mengenalkannya dengan Fariz RM dan Darwin. Temu punya temu, mereka sepakat membentuk grup band, namanya WOW. "Tapi belum terealisir saya sudah kadung pergi ke Amerika," ujar Eet. (WOW sendiri sempat mengeluarkan album, minus Eet). Di negeri Paman Sam, Eet mengambil Workshop Recording Sound Engineering di Chillicote, Ohio selama tiga bulan. Selama di sana, ia banyak bertemu musisi Indonesia, yang juga sedang studi musik, antara lain kawan lamanya Fariz RM dan Iwan Madjid, serta Ekie Soekarno. Pertemanan mereka berlanjut sampai di tanah air. Dalam beberapa kesempatan, Eet kerap diajak rekaman. Saat Fariz RM menggagas proyek album Barcelona, Eet mengisi sound gitarnya. Atau waktu Ekie Soekarno membuat album Kharisma I dan Kharisma II. Saat menggarap album Ekie, Eet bertemu Jockie Surjoprajogo, yang lalu mengajaknya masuk God Bless, menggantikan posisi Ian Antono. Tak hanya sebagai player, Eet juga ditawari produser rekaman untuk menggarap beberapa proyek album solo rock. Dari beberapa nama yang diajukan, Eet memilih Ecky Lamoh. Alasannya, ia sudah tertarik dengan warna vokal Ecky sejak sama-sama mengisi album Kharisma-nya Eki Soerkarno. Tapi, Eet ingin format solo album dirubah menjadi duo. Titelnya "E dan E", singkatan dari Ecky Lamoh dan Eet Sjahranie. Namun, ditengah jalan, kedua musisi ini malah membentuk grup band. Fajar S. (drum) dan Iwan Xaverius (bas) yang sejak awal ikut merancang konsep album mereka, diajak bergabung. Jadilah namanya berubah menjadi EdanE.

Bersama EdanE, Eet mencurahkan kemampuannya dalam bermain gitar. Impiannya menjadikan grup rock, yang paling tidak secara musical sama kualitasnya dengan grup-grup rock dari luar, berusaha ia wujudkan. Hasilnya, semua orang mengakui Eet terbilang berhasil mempresentasikan musik rock yang bermutu. Sayatan-sayatan gitar yang bertehnik serta eksperimen distorsi sound-nya yang njelimet, banyak membuat orang berdecak. Maka, tidak terlalu berlebihan jika ia dijuluki salah satu kampiun gitar rock di Indonesia.

Bersama EdanE, Eet telah banyak memiliki penggemar karena cara dia memainkan gitar sungguh tak dapat dipandang sebelah mata. Dalam debutnya bersama EdanE, Eet telah mengeluarkan 6 album.



Diskografi :

- THE BEAST - Produced by AIRO Records & EdanE ( 1992 )

1. Evolusi
2. Ikuti
3. The Beast
4. Masihkah Ada Senyum
5. Menang Atau Tergilas
6. Life
7. Opus #13 (Ringkik Turangga)
8. Liarkan Rasa
9. You Don't Have To Tell Me Lies

Dalam abum ini warna EdanE dalam bermusik masih sangat garang karena aroma rock yang sangat kental. Formasi pada album perdana ini adalah

* Eet Syahranie : guitar
* Ecky Lamoh : vocal
* Iwan Xaverius : bass
* Fajar Satritama : drum

Dalam album ini yang menjadi hits adalah "Ikuti" dan "The Beast" karena cara mereka mengarensemen musiknya sungguh sangat luar biasa dengan kegarangan Eet bersama uara melengking Ecky dan tak lupa dentuman drum Fajar yang dibarengi dengan cabikan bas Iwan, membuat para pecinta musik pada era tersebut merasakan ada nuansa musik baru yang menggetarkan jiwa. Namun itu semua tak berlangsung lama karena ada masalah intern dalam tubuh EdanE yang membuat Ecky harus hengkang dari EdanE. Namun demikian EdanE tetap berjalan terus.

- JABRIK - Produced by EdanE (1994)

1. Wake Of The Storm 2. Jungle Beat 3. Jabrik ( Big Town ) 4. Victim Of The Strife 5. Call Me Wild 6. Pancaroba 7. Kharisma 8. Way Down 9. I.X.S 10. Alam Manusia 11. Burn It Down 12. Kurusetra

dalam album ini bisa dikatakan EdanE seperti tak dapat tertandingi. karena dalam kepiwaian dan kepropesioanal masing masing mereka dapat menciptakan lagi album yang sungguh membuat bulu kuduk merinding. banyak sekali melodi yang sangar namun harmonis di ciptkan oleh eet dan juga tak lupa dalam Album ini mereka bertambah sangar dengan masuknya Heri batara kedalam formasi ini, dimana swara heri yang serak namun melengking itu membuat EdanE memiliki musik yang jarang di indonesia saat itu malahan mungkin hanya mereka yang memiliki warna seperti itu. Wake of storm, jungle beat, call me wild, pancaroba, waydown, alam manusia,jabrik, burn it down juga menampilkan kegarangan eet dimana soundnya dalam memainkan gitar tersebut sangat terasa sekali warna seorang eet yang sangat dikagumi. apalagi dalam album ini iwan xaverius juga memperlihatkan skilnya dalam hits nya I.X.S ( iwan xaverius soLo ), dan juga eet sjahranie yang memainkan musik sedikit melow namun tetap garang dalam album ini, apalagi kalau bukan victim of the strife, swara heri batara yang serak tersebut saat menyanyikan victim of the strife seperti mengingatkan kita pada musisi - musisi luar negeri van halen, yngwie malmsteen, deep purple, dll.

- BORNEO -

Produced by EdanE ( 1996 )

1. Borneo I - Borneo II 2. Semua Begini 3. Free Granny 4. Mimpi 5. Kebebasan 6. Lari 7. Lukisan Dunia 8. Satu

sekali lagi EdanE meluncurkan album nya. tetap dengan formasi eet syahranie : guitar Heri Batara : vocal iwan xaverius : bass fajar satritama : drum namun sedikiT dibantu dengan addetional player yaitu fatah mardiko yang membantu heri batara menyanyikan lagu - lagu garang. Dalam album ini borneo dan semua begini sedikit memberikan nuansa daeraH kalimantan saaT awaL masuknya lagu ini. itu mungkin karena eet adalah seorang yang berasal dari kalimantan karena itu lah dia memberikan satu aransemen musik kalimantan. tak lupa juga saat lagu "satu" EEt memetik gitarnya dan menciptkan keharonisan dalam memainkan musik rock. Untuk sekali lagi EdanE masih tetap bertenggeR dalam musik rock Indonesia.

- 9299 - ( compilation )

Produced by EdanE ( 1999 )

1. Rock On - 2. Dengarkan Aku - 3. Ikuti - 4. Big Town - 5. Pancaroba - 6. The Beast - 7. Untuk Dunia - 8. Borneo - 9. Free Granny - sekali lagi EdanE tetap menciptakan lagu rocknya. walaupun daLam album kompilas ini banyak dicamPurkan dengan lagu sebelumnya namun EdanE tetap menambaH beberapa lagu juga daLam alBum ini seperti Rock on, dengarkan aku, untuk dunia.dan tetap dengan formasi. eet syahranie : guitar Heri Batara : vocal iwan xaverius : bass fajar satritama : drum

-170 Volts-

Produced by Jan Djuhana (2002)

1. 170 Volts - 2. Kau Pikir Kaulah Segalanya - 3. Saksi Anarki - 4. Luzadis - 5. Hilang - 6. Bus Station - 7. Fitnah - 8. Lari II - 9. Bintang Masa Depan - 10. Goblog- 11. Kau Ku Genggam - 12. Paraelite -

Mungkin di album ini lah EdanE mendapatkan masa kejayaan yang luar biasa. pasalnya dalam album ini EdanE melemparkan hits "Kau pikir kaulah segalanya", membuat para anak muda dan ABG yang ada di Indonesia menjadi sangar gemar untuk menyanyikan lagu ini.dalam album ini juga EdanE telah kontrak bersama Sony BMG dimana sebelumnya EdanE berada di bawah label aquarius. dalam album ini EdanE memiliki seorang vocalis yang sudah tidak asing dalam dunia rock. seorang Trison manurung Ex-roxx, band yang sempat membuat log zhelebouR memberikan penghargaan buat mereka karena mereka sempat membuat hits yang banyak dibawa oleh anak band di seluruh indonesia. inilah formasi mereka eet syahranie : guitar trison manurung:vocal iwan xaverius : bass fajar satritama : drum

- Time to rock (2005) -

1. Rock in 82
2. kilat
3. takkan menghilang
4. cahaya
5. ini aku
6. cry out
7. time to rock
8. judgement day
9. time & time
10. D14
11. Sampai Kapan
12. Untuk Dunia

Merasa musik mereka telah di gandrungi para aBg maka mereka segera mencoba melemparkan album lagi. dimana "rock in 82" menjadi hits-nya. namun dalam album ini EdanE tidak secemerlang album sebelumnya. akan tetapi EdanE tetap saja memiliki fans sendiri. karena dalam hits nya ia menceritakan tentang kehidupan anak muda saat zaman era rock 'n' roll yang masih kental akan melodi. tapi eet tetap saja selalu dan tetap selalu menjadi inspirasi bagi gitaris Indonesia. karena album - album yang dia telah lempar kedunia permusikan tetap selalu hidup dan tetap mendapatkan selalu penggemar yang baru. EdanE juga memasukkan intro album untuk dunia (intro) walaupun dengan bentuk berbeda.
sumber: wikipedia
Read More..

Profil Eross Candra



Eross Candra biasa disapa Eross adalah seorang pria kelahiran (lahir di Yogyakarta, 3 Juli 1979; umur 31 tahun) yang berprofesi sebagai musisi yang merupakan anggota dari grup musik Indonesia Sheila on 7. Eross berposisi sebagai gitaris dari grup musik tersebut. Pria yang beragama Islam dan mempunyai tinggi 173 cm ini adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan mempunyai hobi kesenian.


Eross besar di keluarga pecinta musik. Ibunya seorang penyanyi, kakeknya pemain saksofon, dan pamannya mahir main gitar. Sejak SD, Eross telah mengenal dunia musik karena sering mendampingi ibunya yang latihan band di studio musik di rumahnya, Karangkajen, Yogyakarta. Eross sangat tertarik dengan alat musik gitar dan mempelajarinya. Gitar pertama dimiliki oleh Eross saat berusia 14 tahun sebagai kado ulang tahun dari ayahnya. Saat kelas 3 SMP, Eross pernah ikut sebuah band, namun tak bertahan lama karena salah satu personelnya pindah kota.

Kelas 1 SMA menjadi saat yang bersejarah bagi Eross. Eross diajak bergabung dengan Dizzy band, bersama dengan Icha dan Adhit Jikustik. Eross menjadi satu-satunya anggota yang masih SMA, yang lain telah kuliah. Sang kakek juga menghadiahkan sebuah gitar listrik yang menjadi gitar listrik pertamanya. Pada tahun yang sama, Eross berkenalan dengan Sakti dan Anton dari saudaranya, Oscar. Dari Sakti, Eross kenal dengan Adam, lalu Duta. Dan akhirnya terbentuklah Sheila Gank pada tanggal 6 Mei 1996 di rumah Adam. Sheila Gank pernah mengikuti Festival Band DIY di Yogyakarta dan mendapat juara pertama. Eross menjadi The Best Guitarist dan Adam menjadi The Best Bassist. Tahun 1998, Sheila Gank mendapat kesempatan untuk menawarkan demo lagu mereka ke Sony Music Indonesia. Akhirnya mereka dikontrak. Nama band mereka diubah menjadi Sheila on 7. "Sheila" yang diambil dari bahasa Celtic yang berarti musikal dan "on 7", yang diambil dari tujuh tangga nada dalam musik. Tak dinyana album perdana mereka langsung meledak di pasaran. Begitu pun dengan album mereka selanjutnya.

Eross menjadi pencipta lagu paling aktif dalam grup band ini. Tak hanya untuk konsumsi grup band-nya, Eross juga menciptakan lagu untuk Memes, Rio Febrian, dan juga Tasya, serta untuk sountrack film "30 Hari Mencari Cinta" dan "Soe Hok Gie".

Selain di Sheila on 7, Eross juga sedang sibuk dengan proyek kelompok musik barunya, Jagostu. Namun, dia memastikan bahwa kelompok musik barunya tersebut tidak akan mengganggu eksistensi dan keutuhan SO7 yang sudah membesarkan namanya. Tahun 2007, Eross bersama Puteri Indonesia 2004, Artika Sari Devi, menjajal bermain dalam film indie berjudul "Mati Bujang Tengah Malam".



sumber
: wikipedia
Read More..
 

All About Music. © 2011